Susahnya Mencari Cilok

20 Nov

Siapa yang menyangka bahwa ada pelajaran yang bisa diambil dari ketiadaan cilok?😉😄

Semua ini bermula dari dua hari yang lalu ketika hujan sedang benar-benar deras dan tiba-tiba makanan yang satu itu melintas di kepala. Yep, cilok. Hari itu hari senin, dan nggak kesampaian karena waktunya nggak cukup buat keluar muter-muter cari cilok. Nggak kecewa sih, cuman masih pengen.

Besoknya hari selasa, dan hujan pun kembali turun saat matahari seharusnya bersinar tepat di atas kepala. Semakin sore semakin dingin, ditambah lagi dinginnya AC di dalam ruangan, bikin suasana Kota Semarang di hari itu seperti di Wonosobo❤ haha daaan si cilok pun kepikiran lagi. Hanya saja, hari ini ada jeda 15 menit untuk nyari cilok sebelum kegiatan selanjutnya jam setengah 6. Yaudah yuk.

Sayangnya, abang-abang cilok yang biasa jualan di tempat biasa sudah menghilang, yang di depan perumahan juga sudah kukutan (re: beres-beres), bahkan yang biasanya mangkal di ujung gang juga udah nggak nampak gerobaknya. Sebenernya masih niat sih cari cilok, tapi apa daya, waktunya sudah habis. Berhubung sudah kelaparan, akhirnya berhenti beli bakso dan minta dibungkus. Yaaa nggak papa lah, yang penting sama-sama bunder dan panas hahaha apa sih de. Mungkin ciloknya next time yah.

Makanan cilok ini bisa diibaratkan sebagai sesuatu yang kita inginkan dalam hidup atau mungkin tujuan hidup. Bagi kebanyakan orang, cilok itu yaaa makanan ringan, yang dibeli kalo pas pengen. Yes, nothing’s special about cilok. Tapi kalau misal lagi pengen banget makan cilok, pasti tetep bakal dicari kan? Kalaupun dalam ceritaku tadi akhirnya diganti bakso, tetep aja rasanya beda. Yaiyalah de, nggak ada bakso yang rasanya kayak cilok haha

Kalau dalam hidup, sesuatu yang kita inginkan tadi bisa berbentuk cita-cita yang belum kesampaian, hasil seleksi yang belum juga diumumin, niat lulus yang belum jelas kapannya, pekerjaan impian yang lagi diusahain, pasangan hidup yang entah kemana atau bahkan mungkin seperti pencarian mentor hidup yang nggak ketemu-ketemu. Haha just ignore the last one. Hal-hal yang belum kesampaian yang tersebut itu pasti udah bener-bener diusahain, diniatin, ditelatenin, dicari segala cara biar tercapai, singkatnya, udah berkali-kali trial and error dilakukan tapi yaaa…begitulah, hal-hal itu tadi nggak (baca: belum) tercapai sesuai dengan target waktu yang udah kita tetapkan. Kita cuma bisa menghela napas dan berkata “mungkin belum saatnya..” atau “pasti ada waktunya kok.

Jadi keinget sama kata-kata seorang teman, “It only need the right person for the right position in the right time.I can’t agree more

Balik ke kasus cilok tadi, nggak peduli seberapa besar niat buat makan cilok, nggak peduli seberapa banyak uang yang dibawa, nggak peduli seberapa banyak cilok yang mau dibeli, nggak peduli nyarinya sendirian atau barengan, tapiiii kalau aku cari ciloknya di waktu yang nggak tepat (baca: menjelang maghrib) yaaa ga bakal dapet. Alasannya simpel, karena abang-abang ciloknya udah pada tutup menjelang jam 5 sore haha. Sama seperti yang terjadi di kehidupan kita. Nggak peduli seberapa besar niatan kita, nggak peduli seberapa besar resource yang kita punya, nggak peduli seberapa banyak koneksi yang kamu punya, nggak peduli seberapa banyak waktu yang udah kita investasiin. Terkadang ada hal-hal yang nggak bisa kamu paksain untuk diraih, hanya karena timing-nya kurang tepat atau bahkan nggak tepat.

Terus..apa dong yang kamu bisa lakuin? Kalau aku, ga dapet cilok, bakso pun jadi haha. Kalau belum kesampaian yang diinginkan bakal ada kecenderungan buat mengalihkan hal tadi ke sesuatu yang mirip atau hampir mirip atau lumayan mirip atau terkadang justru yang berbeda sama sekali. Bukan berarti membiasakan untuk menyerah atau apa, tapi hidup itu ya cuma sekali, waktu itu sekalinya terlewati ya nggak bakal balik lagi, sementara kesempatan itu suka datang nggak tentu waktunya. Jadi, manfaatin aja waktu yang ada untuk menikmati hal-hal lain. Selagi, tentu saja, menunggu apapun itu yang ingin kamu tunggu. Bukan nggak mungkin loh kalau ternyata kamu lebih menemukan kebahagiaan di hal-hal pengalih itu tadi. Atau bahkan mungkin hal-hal pengalih tadi ternyata lebih baik daripada hal-hal yang lagi kamu tungguin. Who knows?

Life is there for you to enjoy and cherish, don’t spend it waiting for things that in the end will make you regret of not using your time wisely.

I will eat my “bakso” and continue my life cheerfully, while waiting tomorrow to come so I can look for the “cilok” to satisfy me. This is the way I do it.
.
How about you?

Regards,
Dea

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: