13 Feb

Jakarta Banjir? Yaelaah.

This post inspired by the writing of Esther Wijayanti in jakarta.kompasiana.com. 
Some materials are taken also from the same source.

.

Belakangan memang yang namanya banjir sering muncul di berita pagi , berita siang, berita sore, sekilas info, dan berita malam. Entah karena hujan deras yang beberapa hari terakhir ini rutin terjadi di banyak belahan Jakarta, entah karena rob. Atau mungkin karena pompa air yang cuma berfungsi dua buah, yang akhirnya bikin air waduk Pluit naik dan tadaaa.. bikin banjir lagi. Aktivitas menjadi terhambat, warga mengeluh dan ada yang menyalahkan program pemerintah yang belum kelihatan hasilnya dan lainnya.

Salah satu hal yang menarik dari tulisan Esther, adalah pembahasan mengenai Giant Sea Wall yang masih dalam tahap awal pembangunannya. Giant sea wall atau tanggul laut raksasa Jakarta, rencana pembangunan yang masuk proyek Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) ini sudah memulai babak awal alias ground breaking pada 9 Oktober 2014. Pembangunan tanggul proyek sepanjang 37-40 km mulai dari Bekasi hingga Tangerang ini dibagi ke dalam tiga fase. Fase pertama, target selesai 2017; kedua, selesai 2030; dan ketiga mulai setelah 2030. Sea wall yang diperkirakan menelan investasi Rp 600 triliun ini dikemas Pemerintah Jakarta sebagai Jakarta Coastal Defense Strategy (JCDS). Pemerintah pusat bernama National Capital Integrated Coastal Defense (NCICD).

Mega proyek ini awalnya mendapat penolakan dari beberapa pihak terkait kajian kelayakan proyek yang belum selesai sepenuhnya, belum adanya kajian amdal dan studi komprehensif KLHS (kajian lingkungan hidup strategis), konflik sosial yang mungkin terjadi melibatkan 16.558 nelayan di sepanjang teluk Jakarta, prediksi degradasi lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran lingkungan akibat melambatnya debit air sungai, ancaman keterbatasan akses sumber daya oleh para nelayan dan penduduk sekitar. Belum lagi wacana penggusuran nelayan yang terkena lokasi pembangunan great sea wall (GSW). Complicated memang, hingga akhirnya 2 bulan setelah peletakkan tiang pancang pada 9 Oktober 2014, pemerintah melalui rapat koordinasi yang digelar Menteri Koordinasi Perekonomian memutuskan untuk melakukan peninjauan ulang terhadap proyek Giant Sea Wall (GSW) dengan alasan kajian proyek tersebut belum selesai sepenuhnya.

Terus bagaimana?

Sebagai warga negara yang baik, tentu saja mendukung semua upaya pemerintah untuk menangani banjir di Jakarta, yang notabene memainkan peranan sebagai ibukota. Tapi satu hal yang penting diingat, bahwa persiapan yang kurang dan mendadak hanya agar target tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya dapat tercapai, pada akhirnya bisa berakibat kurang baik pada keberlanjutannya di masa-masa yang akan datang.

Saya pribadi percaya semua niat baik, pasti hasilnya baik. Sebagaimana saya percaya bahwa proyek GSW ini bakal menyelesaikan permasalahan banjir yang ada di Jakarta bila konsep dan kajiannya benar-benar dilakukan secara mendetail dan dengan perencanaan yang matang.

Pembangunan GSW ini memiliki konsep yang berfokus pada penanganan banjir di daerah hilir. Memang sih tidak mungkin banjir di Jakarta dapat terselesaikan jika hanya membangun tanggul di daerah hilir saja, padahal penyebab banjir di Jakarta berasal dari hulu. Namun, perlu diketahui bahwa proyek GSW merupakan bagian yang terintegrasi dari pembangunan proyek NCICD. Proyek GSW ini memang ditujukan untuk membenahi daerah hilir, sedangkan salah satu upaya membangun hulu adalah pembangunan waduk Ciawi yang wajib segera dikerjakan. Sayangnya pembangunan waduk Ciawi ini masih terkendala masalah pembebasan lahan hingga tahun depan. Kedua proyek pembangunan tersebut dapat menjadi contoh keseriusan pemerintah untuk benar-benar menangani banjir yang terjadi tiap tahun di Jakarta.

Pemerintah saat ini percaya bahwa penanganan banjir harus dilakukan secara keseluruhan. Penanganan banjir seharusnya tidak lagi dilakukan sebagai rutinitas setiap tahun. Juga tidak secara parsial atau penanganan sendiri-sendiri oleh tiap daerah. Hal ini karena Jakarta dan kota satelitnya tidak dapat dipisahkan.

NCICD sendiri merupakan sebuah terobosan yang mencakup didalamnya pembangunan tanggul laut, reklamasi pantai, pengembangan pelabuhan, pengerukan sungai, dan pembuatan waduk sebagai tampungan air baku.

Lalu Kita Sebagai Warga Bisa Apa?

Saat pemerintah sudah serius menangani banjir di Jakarta, apa yang bisa kita lakukan? Mengutip kata-kata Esther,

“Sudah saatnya warga Jakarta mendukung program pengendalian banjir Jakarta. Jadilah warga yang berhenti goblog dengan berhenti membuang sampah di sungai. Berhenti membangun rumah di sungai. Dan waraslah sedikit: pengendalian banjir yang sudah diabaikan 20 tahun tidak bisa dibangun dalam 100 hari.

Keseriusan pemerintah yang dibarengi dengan partisipasi aktif warganya menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam merealisasikan rencana-rencana pembangunan yang telah dianggarkan sebelumnya. Berhentilah memberikan kritik negatif terhadap segala sesuatu yang dilakukan oleh pemerintah. Instead, berikan kritik-kritik yang membangun sesuai dengan bidang masing-masing. Awasi dan tegur apabila ada hal yang terlihat menyimpang. Adalah hak warga untuk tahu apa yang terjadi di kota tempat tinggalnya, dan menjadi kewajiban warga untuk mendukung dan berpartisipasi. Pahamilah sistem yang ada. Berkeluh kesah tentang hal yang tepat, kepada pihak yang tepat.

.

Apa sih yang enggak buat Jakarta yang lebih baik?

Regards,
Dea

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: