Tiga Tipe Orang Di Job Fair

9 May

three-stooges

Masih bahas soal job fair universitas nih. Jadi, tadi berangkat ke job fair jadinya bertiga. Ada aku, kamu dan dia. Elaah haha *wink* tapi emang beneran bertiga. Ada aku, satu temen cewek, satu temen cowok. Dan, well, secara nggak langsung kayak merepresentasikan tiga jenis karakter yang berbeda di job fair.

Jenis karakter pertama, namanya Rahil. Fresh graduate Psikologi. Bener-bener serius buat cari kerja. Sesuai dengan postingan yang ini, rahil did crossed all of the points on the list. Dia pakai baju formal, bawa berkas-berkas yang lengkap, tahu mana kira-kira jenis pekerjaan yang dia mau, bahkan dia rela muterin satu auditorium trus berkunjung ke beberapa stand lebih dari sekali sambil memakai heels. Nah. In my opinion, she has everything that is necessary to be a perfect example of a good job-seeker. Ini bukan ngomongin soal peluang loh ya, itu tergantung sama kemampuan dan takdir masing-masing, tapi ini lebih bahas tentang persiapan. Beruntung tapi nggak prepare ya, kurang optimal juga haha. Tingkat ke-niat-an: 80-100%

Jenis karakter kedua, namanya Dikki. Fresh graduate, Teknik sipil. (Kelihatannya) serius cari kerja. Pakaian formal; kemeja putih bergaris, sepatu, dan celana jeans yang sobek di lutut. Nggak bawa berkas-berkas yang diperlukan. Saat ada beberapa lowongan yang bikin tertarik, nanya, “(lowongan) yang itu bisa daftar nggak ya kalo nggak pakai berkas-berkas?” atau Rahil yang bilang, “(Lowongan) yang itu bisa daftar online juga kok, dik.” Sekali lagi, bukan ngomongin peluang aja, tapi lihat preparation-nya juga, kan? Sayang banget kan kalo ada satu dua yang bikin kamu tertarik, tapi nggak bisa dicobain cuma gara-gara ga bawa berkas atau berkasnya nggak lengkap, right? Karakter kedua, tingkat ke-niat-an: 30-70%

Jenis karakter ketiga, namanya Dea. Mahasiswa semester akhir, datang job fair cuma karena penasaran. Nggak pengen bahas yang terakhir ini sih sebenernya haha. Pakaian nggak formal sama sekali. (mungkin) jadi satu-satunya yang pakai kaos item, celana jeans, dan sandal pergi. Iya, kaos. Iya, celana jeans. Iya, sandal (meski bukan sandal jepit sih, tapi tetep aja). Ikut datang job fair cuma bermodalkan note book kecil, bulpen sama power bank. Apalah itu yang namanya berkas-berkas buat ngelamar kerja, hanya butiran debu tak berarti, kan yang penting hadir di job fairnya dulu LOL. Bahkan orang lain yang melihat juga bisa tahu kadar ketidakniatan karakter jenis ini. Sebut saja, mbak penjaga stand salah satu perusahaan terkemuka, yang berdiri di depan stand dan semacam membagikan brosur-brosur. Mbaknya (dari bahasa tubuhnya) sudah setengah jalan mau memberikan brosur lowongan kerja di perusahaan terkait, tapi ada jeda beberapa saat dimana mata si mbak ini scanning dari atas ke bawah, ngeliatin penampilan si Dea, dan batal dong ngasih brosurnya. Si Dea nya cuma bisa nyengir dan move on ke depan. Sakit yah, gagal seleksi cuma dalam sekali pandang haha tapi konsekuensi ya gini kalo persiapan niat ga niat. Karakter yang ini, tingkat ke-niat-annya sangat rendah: 0-10%, jarang bgt bisa dikategorikan 20%, kan emang (kelihatan) nggak niat.

Kesimpulan:
Nggak semua orang terlihat seniat yang mereka kira. Jadi kamu pernah jadi yang mana?

P.S. bukan judging, buat pembelajaran aja, no harm intended.😀

Regards,
Dea

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: