Belajar Mendengarkan

14 Aug

Ketemu orang itu memang menyenangkan, tapi mendengarkan orang bercerita itu seru!🙂

Setuju banget waktu baca quote yang bilang kalo siapapun yang kita temui itu punya cerita tersendiri yang kadang bisa jadi berharga banget untuk kita dengarkan (kalau mau). Kalau di facebook itu ada yang namanya fans page Human of New York (HONY). Page ini membahas tentang cerita-cerita orang yang ada di sekeliling penulis (nama penulisnya Brandon), yang mayoritas tinggal di New York. Karena si Brandonnya itu tinggal di New York dan maka dari itu namanya Human of New York haha.

Fans page ini memang sangat menarik terutama buat kamu yang selalu beranggapan bahwa dunia sekarang hanya dipenuhi oleh orang-orang yang entah itu mementingkan kepentingan pribadi atau punya niatan terselubung. Brandon ini dengan suksesnya secara sederhana menunjukkan ke dunia bahwa sebenarnya dibalik penampilan sangar atau jutek atau tak pedulinya orang-orang di sekitar dia itu, ternyata masing-masing dari mereka menyimpan cerita-cerita tersendiri yang menjadi bukti bahwa mereka masih manusia yang sama dengan struggle (perjuangan) mereka masing-masing. Hanya saja, terkadang kita terlalu cuek untuk bertanya dan mendengarkan cerita-cerita dari manusia-manusia lain yang kita anggap kurang berpengaruh atau bahkan tidak memberikan keuntungan bagi kita secara langsung.

Belajar mendengarkan orang lain itu bukan hal yang mudah. Apalagi kalau kamu terbiasa aktif di sosial media yang makin kesini, makin menuntut kamu untuk selalu show off, untuk selalu menunjukkan apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu pikirkan. Sehingga pada akhirnya, kamu akan terbiasa untuk bercerita, bukan lagi mendengarkan. Terbiasa untuk berpendapat secara leluasa dan kurang bisa menerima masukan yang bersifat mengkritik. Well, the perks of living in the era of constant need to share about everything. Lol. Mungkin karena belum lengkap rasanya kalau belum update tentang kegiatannya atau makanannya atau tempat yang dikunjungi. Setelah itu cek notifikasi, siapa tau ada yang mengapresiasi dengan ngasih like atau love haha kan yang penting like/love nya yang banyak, masalah manfaatnya ya belakangan aja. Yaelah, kayak kamu enggak gitu juga aja de hahaha

Balik lagi ke topik tadi. Analogi sederhana tentang mendengarkan orang lain. Sesama coffee-lover, ketika ditanya tentang kopi, si A bercerita panjang lebar passion terhadap kopi yang membuatnya rela berkeliling dari satu kota ke kota lain untuk mendapat biji kopi yang berkualitas, yang terbaik. Jika kamu tidak sibuk berpendapat dan fokus mendengarkan, kamu mendapat kesempatan untuk belajar bagaimana cara menyimpan biji kopi yang baik dan membuat aromanya tetap tahan lama, dimana saja mendapatkan biji kopi yang berkualitas, atau bahkan mungkin juga tentang cara membuat komposisi seduhan kopi yang baik.

Kemudian, setelah belajar dari si A, kamu ketemu coffee-lover yang kedua, si B. Biasanya yang terjadi adalah kamu merasa sudah banyak tahu soal kopi dan akan sibuk bercerita tentang apa yang kamu tahu kepada si B karena percayalah, jadi orang yang dianggap banyak ilmunya itu selalu menyenangkan. Sayangnya, momen ini juga lah yang menentukan apakah kamu sudah berhasil mendengarkan orang lain atau tidak.

Padahal, semisalnya kamu mau merendah dan berhasil menunjukkan bahwa kamu adalah pendengar yang baik, kamu akan belajar hal baru tentang topik yang sama (tentang kopi). Kamu akan belajar bahwa si B ini adalah pengusaha kopi yang sangat mengerti secara mendalam tentang tren kopi. Si B ini mungkin tidak sepaham si A dalam menjelaskan keunggulan biji kopi di daerah satu dibanding daerah lain. Tetapi si B mempunyai pengalaman dalam mengetahui tren kopi untuk pasar pencinta kopi yang lain dan juga mempunyai ilmu yang mumpuni tentang bagaimana teknik marketing yang bagus berdasarkan pengalaman pahit manisnya selama menjadi pengusaha kopi. Ilmu yang tentu hanya akan didapatkan kalau saja kamu terbiasa mendengarkan orang lain. Bukan terbiasa bercerita tentang apa yang kamu tahu.

Panjang yah analoginya? Haha ya gitu itu

Well, masih inget kata-kata, “masih ada langit di atas langit” kah? Peribahasa itu sebenarnya mengajarkan kita untuk selalu merendah. Inget ya, bukan rendah diri tapi rendah hati. Kesempatan untuk belajar itu hanya akan bisa dilihat oleh mereka yang merasa belum puas untuk mengerti dan antusias mendengarkan cerita orang lain. Karena semakin sering seseorang mendengarkan dan belajar dari orang lain, dia akan semakin sadar bahwa ternyata masih banyak pengetahuan yang belum diketahuinya. Sedangkan ketika kamu kurang apresiasi terhadap cerita orang lain dan tidak sabar mendengarkan, kemungkinannya adalah kamu melewatkan kesempatan yang sangat bagus untuk belajar dari pengalaman orang lain.

Satu hal yang pasti, setiap kehidupan yang dijalani masing-masing manusia pasti punya cerita mereka sendiri-sendiri dan hampir selalu berbeda antara satu dengan lainnya. Sedangkan umur manusia terlalu pendek untuk menjalani setiap pembelajaran, jadi nggak mungkin dong kita bakal punya kesempatan untuk mengalami semua hal itu. Terus gimana dong? Ya itu tadi, keep on listening to their stories. Learn from those experiences. And then, start to apply the lessons you got from them in planning your own moves in life.

A win-win situation, right? Sambil memberi kepuasan orang lain dengan mendengarkan cerita mereka, kamu juga mendapat ilmu dan pengetahuan yang berharga. Kalau sudah tau manfaatnya, yuk, mulai belajar untuk lebih sering mendengarkan orang lain🙂

Regards,
Dea

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: