Image

Mereka dan Cerita dalam Diam

28 Jun

Dan mereka pun duduk di antara tumpukan jerami kering. Menatap jauh, menerawang. Bersama, menikmati aroma tanah yang baru saja selesai disiram hujan. Tenang. Menenangkan.

Mereka takut hujan. Takut petir yang menyambar dan diselingi gemuruh di sela-sela curahan airnya. Memberi kilatan warna yang secerah mentari di ujung kepala. Tak berani keluar dan bermain layaknya anak tetangga kompleks samping. Hujan bikin sakit. Hujan itu dingin dan memilukan. Hujan bukan sahabat mereka.

Mereka tak bisa didekati. Tak mau mendekat. Tak mau bercerita. Menghindari berkata, “kami takut hujan.” Lupakan saja. Semua tahu mereka tak butuh didekati.

“Sudahlah, itu percuma. Pedulikan hidupmu saja, lupakan mereka.”

Mereka tak peduli pada siapapun. Hidup adalah hari ini dan kemarin. Esok? Apa pedulimu. Kamu bukan Tuhan. Kalian bukan peramal yang selalu jitu menebak nasib. Lupakan saja.

Mereka hanya suka bau tanah sesudah hujan. Tak peduli seburuk apapun hujannya. Ada ketenangan sederhana, membungkus kenangan sederhana tentang rumput disana dan udara yang terhirup dibumbui bau rumput yang basah.

Dan sesederhana itu, mereka merasa bahagia lagi.

16 May

Cerita di akhir hari: jus wortel 🍹 – at Diek Cafe

View on Path

9 May

Memanfaatkan momen tahun ajaran baru, HOMPIMPAH 2016 ingin memberikan paket sekolah yang terdiri dari: sepatu, tas sekolah, seragam, pensil warna, krayon, buku tulis, alat tulis, alat sholat dan sebagainya.

🎨 Siapa? 100 anak yatim piatu dan dhuafa di Kota Semarang yang tidak tercover oleh Panti Asuhan.

HOMPIMPAH 2016 diwujudkan dalam kegiatan menginap selama dua hari satu malam yang terdapat edukasi kebersihan/PHBS, melatih kemandirian, kerjasama dalam tim, mengasah kreativitas dan percaya diri, pribadi yang terbuka serta aktivitas outbond.

• 🎨 Kapan? 18-19 Juni 2016 .
• 🎨 Dimana? Semarang dan sekitarnya.

Karena kepedulian itu tulus, tanpa pamrih 👦👧💕

Setiap donasi yang kamu berikan, satu senyum anak-anak ini tercipta 💑 – with Evi, Rizal, Puput, Muhammad Hiksa, Gita Swasti, monica, budi, Maya, Weny, Ayu, Faishal, Achmad, Wening, Fauzan, Ihda, Ketut, Hariadi, Fitri, Meatry, Jayanti, Awaludin, Den, Divega, Bisa, Fikri, Ilman, encing, Afif, hari, Pawestri, Ilhamkiddo, Aulia, Yunita Kartikasari, and Herlambang

View on Path

Taksi

22 Mar

Selasa pagi ini menjadi hari pertama tanpa minum rendaman lemon. FYI, aku sedang rutin-rutinnya mengkonsumsi makanan dan minuman dalam bentuk asli tanpa diproses. Salah satu bentuk diet pencernaan yang sehat nih🙂

Oh, apa kabar Indonesia hari ini? Setelah scrolling twitter dan baca berita online pagi tadi, baru sadar kalau di ibukota sedang ada demo besar-besaran terkait penolakan taksi berbasis aplikasi online. Termasuk didalamnya, melakukan sweeping terhadap taksi-taksi yang “tidak setia kawan” karena masih beroperasi dan mengangkut penumpang. Berbagai macam video berseliweran di sosial media dan sebagian besar berisi tindakan kekerasan yang dilakukan oleh para pendemo.

Senang? Enggak. Takut? Enggak juga. Bingung? Iya. Haha. Kenapa malah bingung?

Jadi tadi pagi itu sebelum baca berita tentang demo supir taksi, sudah baca tulisan dari Prof. Rhenald Khasali yang dimuat di salah satu media online, berjudul “Selamat Datang Sharing Ekonomy”. Tulisan ini mostly membahas tentang perubahan mindset/pola pikir cara membuat dari generasi dulu ke generasi kini. Konsep mendirikan usaha yang dulu itu berarti mempersiapkan modal yang besar dan properti atas nama pribadi, hingga pengusaha muda sekarang yang cenderung melakukan partnership atau yang kemudian disebut dengan sharing economy. Adanya sharing economy yang dibantu oleh kemajuan teknologi ini membuat para pemilik usaha mampu menekan cost dan memasang harga yang lebih rendah dibanding dengan sistem konvensional. Pada akhirnya, usaha-usaha baru bermunculan dan mulai menekan bahkan menggeser usaha besar yang awalnya sudah mendominasi pasar.

Mengutip tulisan Prof. Rhenald Khasali:

Mereka

mengeluh, utang setoran ke perusahaan terus bertambah. Padahal, uang yang dibawa pulang untuk makan anak-istri makin turun. Kita tentu prihatin dengan kenyataan tersebut. Apalagi jumlah pengemudi angkutan umum ini tidak sedikit. Seluruhnya bisa mencapai 170.000-an. Sampai di sini Anda mungkin bergumam: mengapa mereka tidak berubah saja? Ke mana para eksekutifnya? Mengapa mereka membiarkan pasarnya digerus para pelaku bisnis online tanpa berupaya melakukan perubahan internal? Tentu semua ini tak akan mudah.

Sampai di sini adagium perubahan kembali berbunyi: kalau rasa sakit manusia itu belum melebihi rasa takutnya, rasanya belum tentu mereka mau berubah. Maaf, pesan ini berlaku buat kita semua, baik yang sedang duka maupun yang masih gembira.”

Bukan yang terkuat yang akan bertahan, tetapi yang mampu beradaptasi dengan perubahan. Perubahan adalah satu hal yang akan selalu terjadi dan tidak mungkin dibendung oleh siapapun. Satu hal yang patut dicermati adalah sikap yang kamu pilih untuk menanggapi perubahan inilah yang menjadi penentu apakah kamu bisa beradaptasi dengan perubahan itu atau tidak? Apakah kamu bisa terus maju ke depan setelah perubahan itu terjadi, atau justru jatuh tersungkur?

Pilihan sikap anarkis yang dilakukan oleh pengemudi taksi adalah bukti penolakan terhadap perubahan. Demo mogok taksi mungkin bisa menjadi salah satu cara dalam menyampaikan aspirasi dan kegelisahan yang timbul akibat adanya perubahan yang terjadi pada kehidupan masing-masing supir taksi. Sayangnya, bertindak anarkis menutup rasa empati dan emosi akan menghalangi pola berpikir yang jernih dari pihak-pihak terkait untuk menemukan solusi yang efektif dan efisien untuk kedepannya.

Jarang ada yang pihak bertahan dan tetap tegak berdiri ketika mereka melakukan penolakan terhadap perubahan yang terjadi. Sejarah membuktikan puluhan cerita kegagalan akibat pola pikir konvensional yang tidak mau berubah dan melakukan adaptasi.

Lalu , bagaimana menyikapinya? Berdamailah dengan perubahan. Intinya jangan menentang. Kita butuh cara baru yang berdamai dengan perubahan. Maka, kita semua akan selamat.

Love,
DEA🙂

Hompimpah Day#40

1 Feb

Ada cerita yang bermula dari ajakan dan niat sederhana untuk membahagiakan anak-anak. Cerita itu berjudul Hompimpah. Dan Alhamdulillah hari ini adalah hari ke 40 dari awal kesepakatan untuk mengadakan #HOMPIMPAH di tahun 2016 ini.

Update hari ke 40.

Ada rasa bangga ketika salah satu dua tiga dan seterusnya bagian dari tim #HOMPIMPAH2016 mulai menagih promises yang sudah dijanjikan sebelumnya. Bangga ketika beberapa mulai merasa tumbuh sense of belongingnya. Rasa memiliki terhadap tanggungjawab masing-masing berdasarkan JD yang sudah ada, untuk memenuhi target yang mereka set sendiri.

Hari ini adalah tanggal 1 Februari. Hari pertama di bulan Februari. Fokus bulan ini sendiri adalah untuk official dan persiapan publikasi donasi serta fundraise. Dan hingga hari ini, setengah dari tim sudah memiliki action plan berupa step-step yang akan dilakukan hingga bulan Juni.

Kerasa bangga sama mereka yang sudah bisa berjalan dan berinisiatif sendiri. Kerasa bersemangat buat mengejar sebagian lagi yang belum set action plan mereka. Percaya bahwa proses itu boleh dijalani perlahan selama jalannya terarah. Percaya bahwa semua usaha dan kerja keras yang selama ini dilakukan tidak akan mengkhianati hasilnya.

S – E – M – A – N – G – A – T  🙂

Salam sayang,
Dea❤

Horacio

25 Jan

There is something amazing that we don’t realize about being completely broken down.

When your heart is shattered, all of the pieces are all over the floor.

Good pieces, bad pieces.

Some of those pieces you love, some of those pieces you hate.

When you’re ready, pick up all of the pieces that you love, and love them more.

Then leave all the pieces that you don’t need anymore.

Next, find better people to hang around, healthy and fun things to do, and dope places to go…

Fill all those empty spaces in your heart with these better people, places, and things.

Love them more.

You deserve this better version of you.

Kalau Begitu, Baiklah.

8 Sep

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain. Kamu harus tahu meski bosan mendengar suara dengkurmu, melihatmu begitu pulas, wajah laki-laki lain yang terlihat begitu sempurna pun tak mengalihkan pandanganku dari wajah lelahmu setelah bekerja seharian.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu enggan hanya untuk mengganti popok anakmu ketika dia terbangun tengah malam. Sedang selama sembilan bulan aku harus selalu membawanya di perutku, membuat badanku pegal dan tak lagi bisa tidur sesukaku.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kita tidak bisa berbagi baik suka dan sedih dan kamu lebih memilih teman perempuanmu untuk bercerita. Kamu harus tahu meski begitu banyak teman yang siap menampung curahan hatiku, padamu aku hanya ingin berbagi. Dan aku bukan hanya teman yang tidak bisa diajak bercerita sebagai seorang sahabat.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan sudah tidak ada kecocokan kamu memutuskan menyatakan cerai padaku. Kamu tahu betul, kita memang berbeda dan bukan persamaan yang menyatukan kita tapi komitmen bersama.

Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti kamu memilih tamparan dan pukulan untuk memperingatkan kesalahanku. Sedang aku tidak tuli dan masih bisa mendengar kata-katamu yang lembut tapi berwibawa.

Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti setelah seharian bekerja kamu tidak segera pulang dan memilih bertemu teman-temanmu. Sedang seharian aku sudah begitu lelah dengan cucian dan setrikaan yang menumpuk dan aku tidak sempat bahkan untuk menyisir rambutku. Anak dan rumah bukan hanya kewajibanku, karena kamu menikahiku bukan untuk jadi pembantu tapi pendamping hidupmu. Dan jika boleh memilih, aku akan memilih mencari uang dan kamu di rumah saja sehingga kamu akan tahu bagaimana rasanya.

Jangan pilih aku sebagai istrimu, jika nanti kamu lebih sering di kantor dan berkutat dengan pekerjaanmu bahkan di hari minggu daripada meluangkan waktu bersama keluarga. Aku memilihmu bukan karena aku tahu aku akan hidup nyaman dengan segala fasilitas yang bisa kamu persembahkan untukku. Harta tidak pernah lebih penting dari kebersamaan kita membangun keluarga karena kita tidak hidup untuk hari ini saja.

Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu malu membawaku ke pesta pernikahan teman-temanmu dan memperkenalkanku sebagai istrimu. Meski aku bangga karena kamu memilihku tapi takkan kubiarkan kata-katamu menyakitiku. Bagiku pasangan bukan sebuah trofi apalagi pajangan, bukan hanya seseorang yang sedap dipandang mata. Tapi menyejukkan batin ketika dunia tak lagi ramah menyapa. Rupa adalah anugerah yang akan pudar terkikis waktu, dan pada saat itu kamu akan tahu kalau pikiran dangkal telah menjerumuskanmu.

Jangan pilih aku jadi istrimu, jika nanti kamu berpikir akan mencari pengganti ketika tubuhku tak selangsing sekarang. Kamu tentunya tahu kalau kamu juga ikut andil besar dengan melarnya tubuhku. Karena aku tidak lagi punya waktu untuk diriku, sedang kamu selalu menyempatkan diri ketika teman-temanmu mengajakmu berpetualang.

Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih belum bisa menerima kekurangan dan kelebihanku. Sedang seiring waktu, kekurangan bukan semakin tipis tapi tambah nyata di hadapanmu dan kelebihanku mungkin akan mengikis kepercayaan dirimu. Kamu harus tahu perut buncitmu tak sedikitpun mengurangi rasa cintaku, dan prestasimu membuatku bangga bukan justru terluka.

Jangan buru-buru menjadikanku istrimu, jika saat ini kamu masih ingin bersenang-senang dengan teman-temanmu dan beranggapan aku akan melarangmu bertemu mereka setelah kita menikah. Kamu harus tahu akupun masih ingin menghabiskan waktu bersama teman-temanku, untuk sekedar ngobrol atau creambath di salon. Dan tak ingin apa yang disebut “kewajiban” membuatku terisolasi dari pergaulan, ketika aku semakin disibukkan dengan urusan rumah tangga. Menikah bukan untuk menghapus identitas kita sebagai individu, tapi kita tahu kita harus selalu menghormati hak masing-masing tanpa melupakan kewajiban.

Jangan buru-buru menikahiku, jika saat ini kamu sungkan pada orang tuaku dan merasa tidak nyaman karena waktu semakin menunjukkan kekuasaannya. Bagiku hidup lebih dari angka yang kita sebut umur, aku tidak ingin menikah hanya karena kewajiban atau untuk menyenangkan keluargaku. Menikah denganmu adalah salah satu keputusan terbesar di hidupku yang tidak ingin kusesali hanya karena terburu-buru.

Jangan buru-buru menikahiku, jika sampai saat ini kamu masih berpikir mencuci adalah pekerjaan perempuan. Aku tak akan keberatan membetulkan genting rumah, dan berubah menjadi satpam untuk melindungi anak-anak dan hartamu ketika kamu keluar kota.

Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini kamu berpikir mempunyai lebih dari satu istri tidak menyalahi ajaran agama. Agama memang tidak melarangnya, tapi aku melarangmu menikahiku jika ternyata kamu hanya mengikuti egomu sebagai laki-laki yang tak bisa hidup dengan satu perempuan saja.

Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini masih ada perempuan yang menarik hatimu dan rasa penasaran membuatmu enggan mengenalkanku pada teman-temanmu. Kamu harus tahu meski cintamu sudah kuperjuangkan, aku tidak akan ragu untuk meninggalkanmu.

Hapus aku dari daftar calon istrimu, jika saat ini kamu berpikir menikahiku akan menyempurnakan separuh akidahmu sedang kamu enggan menimba ilmu untuk itu. Ilmuku tak banyak untuk itu dan aku ingin kamu jadi imamku, seorang pemimpin yang tahu kemana membawa pengikutnya.

Jangan jadikan aku sebagai istrimu, jika kamu berpikir bisa menduakan cinta. Kamu mungkin tak tahu seberapa besar aku mengagungkan sebuah cinta, tapi aku juga tidak akan menyakiti diriku sendiri jika cinta yang kupilih ternyata mengkhianatiku.

Jangan jadikan aku sebagai istrimu, jika kamu berpikir aku mencari kesempurnaan. Aku bukan gadis naif yang menunggu sang pangeran datang dan membawaku ke istana. Mimpi seperti itu terlalu menyesatkan, karena sempurna tidak akan pernah ada dalam kamus manusia dan aku bukan lagi seorang gadis yang mudah terpesona.

Jangan pernah berpikir menjadikanku sebagai istrimu, jika kamu belum tahu satu saja alasan kenapa aku harus menerimamu sebagai suamiku.

this is originally posted in here

Hal Sederhana Yang (Justru) Bikin Hidup Lebih Berwarna

5 Sep

Kadang geli juga kalau mendengar komentar orang lain tentang pilihan hidup macam apa yang kita ambil. Kadang kehabisan alasan buat menjelaskan rasa penasaran mereka tentang aktivitas-aktivitas yang kita selalu lakukan, hal-hal yg nampaknya kurang benefit menurut definisi mereka. Kadang sulit buat mereka mengerti ketika hal-hal simpel, yang meski sering melelahkan, tapi bisa bikin kita ketawa lepas.

Sama halnya ketika aku harus menjawab pertanyaan kenapa ketika sedang ‘suntuk’ dengan problema hidup (elaah), malah memilih main sama anak-anak. Juga pertanyaan kenapa dibela-belain tiap kali kesana meski kadang jaraknya jauh dan nggak dapet bayaran juga.

Fyi, I do teaching. I do two kinds of teaching. Kalau yang sore hari itu tanpa dibayar dan yang malem itu ada honornya. Trus mainnya kapan? Ya pas nggak ngajar lah haha

Kalo boleh jujur, capek loh itu nyaris tiap hari ngajar haha kadang bisa bikin aku nyampe rumah baru jam 10 atau 11 malam. Padahal di rumah masih ada peer adek yg perlu dikoreksi. It happens almost every single day. But the funny thing is, meski suka capek sampe ketiduran, mengajar anak-anak itu jadi satu-satunya aktivitas yg selalu (baca: SELALU) dilakukan tanpa mengeluh dan selalu semangat, sampai sekarang; baik mengajar yg dibayar maupun yg free. Nggak peduli sesibuk atau secapek apapun hari itu. Justru, meeting those kids is like… well, like charging my energy and even boosting my mood.

Lebih dari sekali ketika lagi feeling unwell or even moody, langsung mutusin untuk selesai ngapa-ngapain lebih cepet dan milih main bareng anak-anak itu (baca: main itu maksudnya ngajarin mereka bikin peer haha). Jadi waktu ada yang nanya kenapa nggak refreshing pergi kemana gitu atau ngobrol bareng temen atau shopping atau ngegame seru aja? Kenapa nggak ngerjain sesuatu yang seenggaknya nggak ribet melakukannya, karena toh anak-anak itu rewel dan kadang sulit diem? yaaaa well, cuma bisa dijawab “nggak tahu”. Yaaa cuma suka aja.

Suka lihat anak-anak kecil berinteraksi satu sama lain. Suka lihat anak-anak itu tertawa terkekeh hanya karena hal sepele. Suka ikut timpal menimpal saat mereka seru mengobrol. Suka saat melihat mereka akhirnya paham setelah dijelasin tentang sesuatu yg awalnya nggak dipahami sama sekali. Suka ketika tahu masih ada anak-anak yang se-carefree mereka, yang main bareng dan nggak pake ternodai gadget.

Dan, percayalah… masih ada orang-orang yang insist (menuntut) penjelasan yang lebih rasional haha nah kan, emang harus dijelasin model gimana sih?

Ada satu temen yang ngejelasin tentang konsep bahagia yang sederhana. Bahagia yang nggak bisa dinilai dengan materi. Sesuatu yang kalau makin dibagi akan makin kerasa. Hal sederhana yang bikin addict, yang dilakuin terus menerus karena merasa sudah menemukan apa yang bikin bahagia and it seems like dont need anything else in the current phase of life. It is the feeling that we have enough for everything.

Katanya kalau perasaan ‘settle’ kayak gitu cuma diri sendiri yang bisa paham. Dan nggak semua orang bisa ‘grasp’ hal ini. Atau mungkin lebih tepatnya, nggak banyak yg punya kesempatan untuk mengalami momen ini, ditengah aktivitas dan kesibukan mengejar cita-cita dan tujuan hidup (elaah), jadi terkadang mereka menjalani hidup dengan ritme cepat.

I read somewhere in the internet, a part of conversation in a movie, “A word of advice: try to slow down your daily rythme, once in a while, sit down somewhere and take a closer look to whatever happen around you. Try to contribute something to your society, that paid you nothing. Pick a cause that reflect your inner value or issues that you agree to support with. Do all those and never expect anything in return. After a year or two, come see me again, and tell me about it.”

Aku jadi inget kata-kata “it’s the simple things in life that make us happy.” Memang ya, kata-kata itu jadi lebih bermakna ketika kamu pernah mengalaminya🙂

Bagaimana ceritamu? Pernah ngalamin simple happiness?

Regards,
Dea

Belajar Mendengarkan

14 Aug

Ketemu orang itu memang menyenangkan, tapi mendengarkan orang bercerita itu seru!🙂

Setuju banget waktu baca quote yang bilang kalo siapapun yang kita temui itu punya cerita tersendiri yang kadang bisa jadi berharga banget untuk kita dengarkan (kalau mau). Kalau di facebook itu ada yang namanya fans page Human of New York (HONY). Page ini membahas tentang cerita-cerita orang yang ada di sekeliling penulis (nama penulisnya Brandon), yang mayoritas tinggal di New York. Karena si Brandonnya itu tinggal di New York dan maka dari itu namanya Human of New York haha.

Fans page ini memang sangat menarik terutama buat kamu yang selalu beranggapan bahwa dunia sekarang hanya dipenuhi oleh orang-orang yang entah itu mementingkan kepentingan pribadi atau punya niatan terselubung. Brandon ini dengan suksesnya secara sederhana menunjukkan ke dunia bahwa sebenarnya dibalik penampilan sangar atau jutek atau tak pedulinya orang-orang di sekitar dia itu, ternyata masing-masing dari mereka menyimpan cerita-cerita tersendiri yang menjadi bukti bahwa mereka masih manusia yang sama dengan struggle (perjuangan) mereka masing-masing. Hanya saja, terkadang kita terlalu cuek untuk bertanya dan mendengarkan cerita-cerita dari manusia-manusia lain yang kita anggap kurang berpengaruh atau bahkan tidak memberikan keuntungan bagi kita secara langsung.

Belajar mendengarkan orang lain itu bukan hal yang mudah. Apalagi kalau kamu terbiasa aktif di sosial media yang makin kesini, makin menuntut kamu untuk selalu show off, untuk selalu menunjukkan apa yang kamu rasakan dan apa yang kamu pikirkan. Sehingga pada akhirnya, kamu akan terbiasa untuk bercerita, bukan lagi mendengarkan. Terbiasa untuk berpendapat secara leluasa dan kurang bisa menerima masukan yang bersifat mengkritik. Well, the perks of living in the era of constant need to share about everything. Lol. Mungkin karena belum lengkap rasanya kalau belum update tentang kegiatannya atau makanannya atau tempat yang dikunjungi. Setelah itu cek notifikasi, siapa tau ada yang mengapresiasi dengan ngasih like atau love haha kan yang penting like/love nya yang banyak, masalah manfaatnya ya belakangan aja. Yaelah, kayak kamu enggak gitu juga aja de hahaha

Balik lagi ke topik tadi. Analogi sederhana tentang mendengarkan orang lain. Sesama coffee-lover, ketika ditanya tentang kopi, si A bercerita panjang lebar passion terhadap kopi yang membuatnya rela berkeliling dari satu kota ke kota lain untuk mendapat biji kopi yang berkualitas, yang terbaik. Jika kamu tidak sibuk berpendapat dan fokus mendengarkan, kamu mendapat kesempatan untuk belajar bagaimana cara menyimpan biji kopi yang baik dan membuat aromanya tetap tahan lama, dimana saja mendapatkan biji kopi yang berkualitas, atau bahkan mungkin juga tentang cara membuat komposisi seduhan kopi yang baik.

Kemudian, setelah belajar dari si A, kamu ketemu coffee-lover yang kedua, si B. Biasanya yang terjadi adalah kamu merasa sudah banyak tahu soal kopi dan akan sibuk bercerita tentang apa yang kamu tahu kepada si B karena percayalah, jadi orang yang dianggap banyak ilmunya itu selalu menyenangkan. Sayangnya, momen ini juga lah yang menentukan apakah kamu sudah berhasil mendengarkan orang lain atau tidak.

Padahal, semisalnya kamu mau merendah dan berhasil menunjukkan bahwa kamu adalah pendengar yang baik, kamu akan belajar hal baru tentang topik yang sama (tentang kopi). Kamu akan belajar bahwa si B ini adalah pengusaha kopi yang sangat mengerti secara mendalam tentang tren kopi. Si B ini mungkin tidak sepaham si A dalam menjelaskan keunggulan biji kopi di daerah satu dibanding daerah lain. Tetapi si B mempunyai pengalaman dalam mengetahui tren kopi untuk pasar pencinta kopi yang lain dan juga mempunyai ilmu yang mumpuni tentang bagaimana teknik marketing yang bagus berdasarkan pengalaman pahit manisnya selama menjadi pengusaha kopi. Ilmu yang tentu hanya akan didapatkan kalau saja kamu terbiasa mendengarkan orang lain. Bukan terbiasa bercerita tentang apa yang kamu tahu.

Panjang yah analoginya? Haha ya gitu itu

Well, masih inget kata-kata, “masih ada langit di atas langit” kah? Peribahasa itu sebenarnya mengajarkan kita untuk selalu merendah. Inget ya, bukan rendah diri tapi rendah hati. Kesempatan untuk belajar itu hanya akan bisa dilihat oleh mereka yang merasa belum puas untuk mengerti dan antusias mendengarkan cerita orang lain. Karena semakin sering seseorang mendengarkan dan belajar dari orang lain, dia akan semakin sadar bahwa ternyata masih banyak pengetahuan yang belum diketahuinya. Sedangkan ketika kamu kurang apresiasi terhadap cerita orang lain dan tidak sabar mendengarkan, kemungkinannya adalah kamu melewatkan kesempatan yang sangat bagus untuk belajar dari pengalaman orang lain.

Satu hal yang pasti, setiap kehidupan yang dijalani masing-masing manusia pasti punya cerita mereka sendiri-sendiri dan hampir selalu berbeda antara satu dengan lainnya. Sedangkan umur manusia terlalu pendek untuk menjalani setiap pembelajaran, jadi nggak mungkin dong kita bakal punya kesempatan untuk mengalami semua hal itu. Terus gimana dong? Ya itu tadi, keep on listening to their stories. Learn from those experiences. And then, start to apply the lessons you got from them in planning your own moves in life.

A win-win situation, right? Sambil memberi kepuasan orang lain dengan mendengarkan cerita mereka, kamu juga mendapat ilmu dan pengetahuan yang berharga. Kalau sudah tau manfaatnya, yuk, mulai belajar untuk lebih sering mendengarkan orang lain🙂

Regards,
Dea

Terbungkus Kerinduan

31 Jul

Sesuatu yang tidak perlu didebatkan bahwa rindu adalah hal gaib terindah dalam hidup.
Kenapa tiba-tiba ngomongin ini? Because, right now, I’m missing somebody, terribly. Yang belum bisa ketemu karena aktivitas, dan entah orangnya nyadar apa enggak. Sedih juga ya kalau rindunya itu nggak keturutan haha bawaannya jadi kepikiran terus.

Belakangan ini ada beberapa kerinduan yang belum kesampaian. Rindu main pasir dan basah-basahan di pantai. Rindu camping dan tidur beratap bintang-bintang. Rindu ketemu orang tua yang kemarin nggak bisa merayakan lebaran bareng-bareng. Rindu mendadak sama mie aceh  dan ketela gorengnya yg di daerah pleburan, tapi bapaknya belum pulang dari aceh buat jualan lagi sampai sekarang. Rindu sama Kota Solo dan teman-teman lama di sana, sebenarnya lebih rindu sama kebiasaan nonton wayang orang tiap malam minggu di sriwedari sih. Rindu sama kamu, yang lagi penuh waktunya dan nggak berani aku ganggu, yang bahkan aku ga berani bilang karena pengen kamu fokus ke apapun yg sedang kamu kerjakan.

Terkadang, rindu itu memang pedih, tapi ia adalah kepedihan yang berujung manis. Karena ada kebahagiaan berlebih saat terpenuhi dengan yang diinginkan.

Nah kan, rindu itu memotivasi orang jadi sedikit lebih “lebay” dari biasanya hahaha semoga yang sedang merindu segera terobati yah😀

Regards,
Dea

Sharing Is Caring: Rahasia Untuk Kaya, Berkecukupan Dan Selalu Merasa Diuntungkan

28 Jul

Hari ini mulai nerapin yg ditulis di artikel ini dan beneran kerasa manfaatnya. Mulai dari ngurusin line telp rumah yg error entah dmn nya, trus air yang ga bisa dihubungi, di-skip sama brt, kedudukan, sampai bahkan lupa ngecharge ponsel.

Saat merasa selalu diuntungkan, ada saja hal baik yang bener-bener terjadi dan bisa disyukuri.

Tiba-tiba ada yang mau membantu menggantikan. waktu insiden brt itu ngelepas rasa keselnya, trus direlain eh ternyata dapet temen baru, udah gitu ditolongin pula. waktu hp mati dan harus berangkat sendiri, eh ternyata sempet ketemu Erik Markos​ di jalan (temen dari panama yang besok pagi udah flight pulang ke negaranya, kebetulan banget!). Waktu pulangnya masih dengan kondisi yg sama, tau-tau ada mbak2 yang nyapa trus nawarin bantuan, baik banget :)) bahkan saat nggak dapet barang yang dicari karena keduluan, trus kan positive thinking, mikir yah mungkin jatahnya orang, eh ternyata dapetnya malah stok yang baru dikeluarin.

Mulai sekarang dan seterusnya mau berpikir “merasa diuntungkan” terus lah, jadi kalau yang terjadi nggak sesuai harapan, percayalah bahwa sesungguhnya ada kebaikan dibaliknya yang “belum” kelihatan. Baru bener-bener paham arti “everything happen for reason” (in a good way) haha kuncinya cuma berpikir bahwa apapun yg terjadi di hari-harimu atau hidupmu adalah yg terbaik, dan jangan mengeluh tentang apapun itu.

Anyway, This mindset did work for me, you should really give it a try!🙂 Bacaan bagus nih~

untuk selalu merasa diuntungkan

Kalo tertarik buat baca artikelnya, bisa banget langsung klik gambar di atas ya. anyway, word of advices, emang bener apa yang dikatakan sama penulisnya. Konsep itu adalah mindset pikiran yang hanya akan benar benar dipahami ketika kamu menerapkannya di kehidupan kamu sendiri. Kalau sudah dipraktekkan dan ada hasilnya, boleh dong dishare di sini🙂

Regards,
Dea

Red

27 Jul

I have a bright type of skin. The disadvantage of having this type of skin? It gets red easily. Very very easily. Especially when it comes to stay directly under the sun for some periods of time; and also whenever I got too emotional talking or thinking over certain subjects. Or someone somehow piques the sensitive part of my brain, which in another word, makes me cry. Then I will have this embarrassing red-spreading area around my eyes that vastly go down to the cheek.

These are days when I barely go out or simply do not facing the sun directly at any cost, my skin will get even paler and paler. In these kind of day, I would prevent myself to anything that scream too much emotions at all. Believe me, those red marks just happen to be really embarrassing and clearly noticeable.

And today…is one of these embarrassing day.

Regards,
Dea

Semarang: Iftar Picnic Plan In Tugu Muda

23 Jul

Living in a city for longer than 2 years could provide you with more time to explore more of its hidden yet pleasurable parts of the city. I know that in most of people first impression of Semarang always about its various and delicious culinary dishes, well, because that’s what the city best known for. Yes, the food still interest me til now, but by the time I already stay longer than 4 years, it is the activities and the events that keep reminding me of a good times this city could always provide. Better yet, I got friends and a lot of friends to create moments with.

Recently, I crossed off another wish in my have-to-do list, which is held a public outing in one of Semarang’s green open space. Or perhaps something like a picnic in the public park. Several days before the Ramadhan ends, the idea to held a potluck gathering in a public park comes up in the conversation and most of people in the group easily agree with it. No detailed yet about when or where or how the gath will be, but I think the idea of group outing enthusiast everyone so they just go along with it. After some considerations, it was agreeable to held it on one of known public park in Semarang, which is Tugu Muda Park. Tugu Muda Park is a circle park surrounding the Tugu Muda’ statue located in one of the busiest intersection in the city.

Planning an outing potluck gathering is rather easy. You just need to make a list of who will bring what kind of food, simply to make sure there will be a variety of the dishes and you can easily bring something that someone hasn’t put on the list yet. Since it held in the outdoor area, make sure to pick a day that has less or even no possibility of raining; and don’t forget to bring something to cover the place you guys will sit. Also prepare for a proper amount of plastic/paper plates and cups and spoons and forks. That’s it.

Oh, one more thing. dont forget to pick the place and set the clear time and make sure everyone familiar with the direction of the place. Having difficulty explaining the location to a person who dont have a good orientation skill? Simply share your gps location. Nowadays everything just one click away.

altAgQiZRezU_5YRV8avopOLCMJOAkSk1qua3AxbIIy7MrSb altAi4KkHcTJN4SMzf8YL07pU0NAOOOK-1JkrGmyQnsaJ2Nd altAi4KkHcTJN4SMzf8YL07pU0NAOOOK-1JkrGmyQnsaJ2Nf altAi4KkHcTJN4SMzf8YL07pU0NAOOOK-1JkrGmyQnsaJ2Nfa altAnuJiys6qfT2KS55bW2-PIeFxwyTe_J7QSHRQFmXyJ42 altAnuJiys6qfT2KS55bW2-PIeFxwyTe_J7QSHRQFmXyJ42a altApRa6tzkNHirC3Y-cMDd487WTWg7FYso1VrS8FjJnUBA altAuyDVqZHN8rqZ-S7aFIlKYnrUphprjkdTmM4hHfrqjzV

This is a monthly gathering of Couchsurfing Semarang, held in Tugu Muda’s Park on July 15, 2015. The spirit was awesome. The circumstances was lovely. I mean there is no rain, the wind was not so strong yet enough to comfort every single person attending the gathering. The foods were marvelous. LOL I mean there were literally so much food for everyone to eat and even still a lot of leftover which some of them still perfectly sealed.

This might be the first of many picnic moments that I would certainly love to plan again. And thanks again to everyone contributed in this moments, especially mba Eny for once again being the lovely CS ambassador and bring all of the necessary equipment for us to eat, drink and sit.  See you again in another plans, another places, and another public outings, guys!😀

Regards,
Dea

Attending A Group Iftar, Should You? Or Should You Not?

15 Jul

I usually do ngabuburit (ngabuburit is a term indicating activity/ies in the afternoon, while waiting for break-fasting) by scrolling down my twitter’s timeline. After finished doing all the preparation for iftar in the kitchen, well, honestly i don’t do anything helping since everything being taken care of my aunt and sister, so all I do is just waiting for them, smelling the deliciousness of the food prepared. Hahaha when people in your home think and believe that you can cook nothing, you actually do yourself a favor of not fussing and wasting your energy in the kitchen while you can use it for something else hahaha such a bad example😛

Anyway, I was just scrolling mindlessly on twitter with no interest reading anything further, well, that is, until I read some tweets being tweeted by a famous account and judging from the respond of the follower that being retweeted, it seems like a pretty heated discussion. It all begin with a simple question: “why do you think you feel unsure for coming to an iftar (breakfasting) activity with your friends?” Yep, the reasons you might don’t want to participated on a group iftar. A common question, not-so-interesting one, at least, til you read the answer.

The responds to the question come from a lot of people, it ranges from simple, common answers to creative, unique answers that you might not think about.  Some has simple answers like the date do not matched, the place to do iftar is consider expensive, not feeling close with the people who invited you or simply because you know the event from someone but you’re not directly invited. This kind of reason that commonly create doubt in people but dont usually get to be said out loud. Yeah well, there is person who is bold enough to say it but still uncommon to be heard of. Whenever this kind of situation become a reason, most tend to present other reasonable excuses to cover it, just in case you need to look convincing enough that you actually unable to come.

Some others reasonably said that the place is too far, also that they concern about how to get back home safely, not getting parent permission, or even having another iftar planned in the same day. This kind of things are waaaayyy more common that the first group I explained before. This is a safe yet acceptable excuses both for the one who say it and them who hear it. But I think, sometimes excuses like this are easy to be argued by other who able to offer helps, either to pick you or other help.

Few examples of worse reasons of why one wont come, such as: (1) “Ajang pamer” (an activity of showing off whatever it is that one has achieved). This reason honestly become the one most inconvenient situation. I personally think that it has to do with the kind of friendship you have since the beginning, the type of friends and the purpose of starting the friendship in the first place. Eventhough in some cases, situations make people change their attitude and being too proud of their achievements, of what they have, more than they should be. If it was the later, than you just need to always remember keeping your ego and emotion in check. (2) “Cant bear meeting the legendary ex-boyfriend.” LOL. seems like someone having trouble on moving on. No need more comment on this one haha. (3) “Jobless or having no job whatsoever.” Well, this situation most likely happen to a recent graduated uni students. While before the tittle as student in university gave them a comfort sense especially to those who are involved in various kind of social works or organizations, being recently graduated student make them somewhat more insecure about their status in society and in front of friends who already stabilized enough as in have a job. How to solve this? Don’t worry too much, fill your currently free time with different kinds of activity, can be a volunteering work or learning new skill or language or even do travel to somewhere. Always remember that there is up and down in life, so enjoy your now. There is no need to be embarrassed about it.

And for me, the most common reasons are because the place is too far or I don’t feel close with the people invited me or don’t feel comfortable to be around them. There are, perhaps, a lot more excuses to be said. Some even were too lazy to come. The thing is that whenever I think about the objective of an iftar that is to get together with old friends and get update about each other well-beings, most of the time I pushed down that laziness feeling and all of those excuses that I might have before and decide to attend the iftar. I realized that time is the most precious thing a human can have. I also realize that most of chances one could lose good things/moments supposed to happen in their lives simply because they didn’t invest enough time to work on it.

So, if, in any chances, you decide to not come to an iftar gathering using every plausible reasons that come to your mind, think it thoroughly. What kind of fun conversation that I might miss to hear? What kind of happiness shared that I dont get involved to? What kind of laugh that I didn’t get to experience? What kind of connection that you cant make simply because you weren’t there? And etc etc. Instead of busy thinking about what others will think about you, you’d better focus on whatever good possibilities that might’ve happen if you come. Some moments are getting worser when you overthink about it and getting better when you actually acknowledge that it is not as bad as you first thought of.

I said, give it a try! Enjoy your fun iftar! Cheers!🙂

Regards,
Dea

Eliee Saab FW 2015-2016: An Ode To Luxury And Dreaminess

10 Jul

I always love-LOVE-LOVE-LOVE to watch Eliee Saab’s Haute Couture. I think I love is as much as-if not more-The Victoria Secret’s Fashion Show. Yesterday, or on Wednesday to be exact, Eliee Saab, a Lebanesee designer, presented dresses fit for princesses at his haute couture show in Paris (known as Paris Haute Couture week). A collection of amazing fabrics with sparkling sequins, shimmering beading and full skirts. It said that his designs were inspired by his early work in the 1990s, the designer, who opened his couture atelier in Beirut at the age of 18, opened the show for his autumn-winter 2015/16 collection with gold floaty dresses adorned with embroidery depicting foliage and other motifs.

                                       

While gold was the recurrent color, the palette also included shades of pink, blue, and taupe before moving onto darker tones. Saab mixed both high and low necklines among the gowns, which had straps, short or flowing sleeves, empire lines or full skirts. Some were cinched at the waist with slim belts. He used printed silk organza, lace as well as mink detailing. Models wore golden accessories including tiaras, some of them made as laurels, over their loose locks.

       

The photos above represent most of Saab’s grander gown designs. I know I promised myself to only take and put a few here that are my favourite, but I can’t help myself. All of them are so damn gorgeous. Gold hues were dominant in the evening gown lineup (which, this season, has done-away with less formal cocktail dresses and focused squarely on the grand and grander gowns). Each look is a floral hymn that enhances the female body thanks to alluring necklines, tactile decoration and cinched waists.

P.S. The smaller photos taken from http://www.vogue.it and the rest taken (the bigger photos) from www.buro247.com

 

%d bloggers like this: